Cara Menang Tanpa Menguasai Bola

Bukan kebetulan jika tujuh dari 10 pemain yang bermain lebih dari 1 . 000 menit selama musim 2009/2010 dibesarkan di La Masia. Pemain generalis juga mampu memainkan pola permainan spontan. Dengan menciptakan lintasan dan posisi pendukung yang tepat, lawan dipaksa untuk berlari lebih banyak ke seluruh penjuru lapangan, yang membuat mereka kehabisan tenaga. “Mengontrol bola saat lawan kehabisan energi mengarah ke posisi yang jauh lebih baik untuk mendapatkan keunggulan, menciptakan kejutan, dan mendapatkan peluang untuk mencetak gol, ” demikian Buldu dan kawan-kawan. Dengan pola itu, fase pertahanan bisa segera dimulai begitu lawan menguasai bola yang didasarkan dengan menciptakan “ruang intersepsi” yang luas untuk meningkatkan peluang merebut kembali bola dari lawan.

Cara untuk mematikan pemain Jerman, kata dia menganalisa pola permainan serta komunikasi menjelang pertandingan. “Alasan Korsel bisa menang lawan Jerman karena sebelumnya sudah menganalisis kekuatan Jerman, ” kata dia. “Pep bilang saya harus bermain dengan penuh kebebasan seperti halnya (Lionel) Messi. Jadilah bebas seperti Messi, bersenang-senang, dan melakukan hal yang ingin dilakukan di atas lapangan, seperti mencetak gol atau membantu lawan mencetak gol.

Untuk memainkan gaya sepak bola tiki-taka, bukan hal yang bisa didapat dengan cara instan ataupun kebetulan. Guardiola dan staf pelatihnya merencanakan secara cermat organisasi taktis dan diterapkan tidak hanya di tim utama, melainkan juga tim yunior Barca.

Pedro menganggap kalau Sarri ball tidak terlalu cocok diterapkan pada kebanyakan pemain Chelsea. Karena memainkan penguasaan bola yang dominan dan aliran bola cepat, setiap pemain dituntut aktif baik saat bertahan maupun menyerang. Ujung-ujungnya tentu menuntut energi pemain yang harus selalu fit di setiap pertandingan. Seperti permainan lainnya, sepak bola juga harus dimainkan dengan teknik-teknik tertentu. Pemain inti setidaknya harus menguasai enam teknik dasar, mulai dari menendang hingga merebut bola dari lawan.

Seperti saat fase menyerang, dua daerah diciptakan dalam radius 20 meter. Dengan menjaga permainan di dalam area situasional, pemain Barca yang lebih terkoneksi, disengaja untuk membuat mereka lebih banyak bermain umpan-umpan pendek untuk mengurangi risiko kehilangan bola. Ini kebalikan dari permainan umpan-umpan panjang yang meningkatkan risiko kehilangan bola.

Dengan memiliki bola, mereka menciptakan peluang lebih banyak. Tiga pemain berada dalam radius kecil dengan jarak meter (d1), membentuk segitiga, sementara dua pemain dalam radius lebih luas, 20 meter (d2), dengan posisi satu lebih di depan, dan satu lagi di belakang. Fase bertahan juga terorganisasi seperti ini, namun dengan tujuan melakukan tekanan untuk merebut bola secepat mungkin. Penggunaan ilmu jaringan untuk mempelajari olahraga, khususnya sepak bola adalah pendekatan yang relatif baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *